Bali oh bali

Posted: Mei 13, 2011 in Uncategorized

Tak dipungkiri lagi Bali merupakan salah satukekayaan alam indonesia yang tak pernah bosan untuk dikunjungi mulai dari keindahan alam hingga keunikan budayanya, disini saya mau berbagi pengalaman selama saya di Bali pada tanggal 14-18 April 2011.

Start dari bandara Hasanuddin Makassar menuju bandara Denpasar yang menempuh jarak ira-kira 1 Jam, harga tiketpun tak terlalu mahal, waktu itu saya menggunakan lion air saya berangkat tgl 14 April 2011 saya memesan tiket 2 minggu sebelum berangkat,  jika dipesan jauh-jauh hari sebelum berangkat apalagi jika bukan musim liburan harga tiket biasanya sekitar 400-600 ribuan untuk satu kali jalan.

Setibanya di bandara Denpasar saya menggunakan taksi bandara menuju penginapan Losmen Arthawan di Jl.Pupies Lane II, Kuta, saya sarankan kepada teman-teman yang baru pertama kali ingin berkunjung ke Bali untuk mendapatkan penginapan yang murah silahkan cari di Jl.Pupies lane II, Kuta, selain disana berada dekat dengan pantai kuta disana juga merupakan kawasan paling banyak turis dari mancanegara. Harga penginapan dikawasan ini berkisar 60-150rb permalam.

Setibanya dipenginapan saya istirahat sebentar lalu mencari makan malam, tapi sempat terlintas Makanan Halal ada ga’ ya? saya bertanya kepada pegawai penginapan dan disarankan untuk mencari warung Halal, jangan khawatir warung halal banyak kok, hehe. setelah itu karena penasaran saya  jalan-jalan dimalam hari hari di daerah Kuta, hal pertama yang terlintas dibenak saya ketika melewati jalan-jalan di Pulau Dewata ini wow… amazing, seperti di Amerika saja kebanyakan warga negara asing daripada orang Asli indonesianya. Disini kita akan terasa seperti bukan berada dikawasan Indonesia karena kita akan melihat para turis lalu lalang mulai dari terbit fajar sampai terbit lagi pokoknya makin malam makin ramai.

Keesokan harinya merupakan hari pertama petualangan saya menggunakan Sepeda Motor, ya.. dibanding mobil yang rp.400 ribu per hari kalau motor cuma perlu disewa sebesar 50rb rupiah, murah kan.

Rute hari pertama :

– Nusa Dua

– Uluwatu temple

– Dreamland Park

– GWK (Garuda Wisnu Kencana)

Dengan berbekal sebuah peta dan modal nekat saya dan teman-teman memberanikan diri untuk mencari sendiri lokasi yang ingin kami tuju, jangan khawatir akan tersesat di Bali

nusa dua

karena orang-orang disana akan menunjukkan jalan kepada anda jika anda bertanya bahkan jika sempat mereka akan mengantar kita ketempat tujuan tanpa dibayar, memang orang-orang Bali terkenal ramah. Setelah lama mencari dan bertanya sana sini akhirnya sampai juga saya ditujuan pertama yaitu

Pantai Nusa Dua, wow keren banget,,, pantai pasir putih dan kawasan perhotelan yang sangat cantik..

Lanjut kerute selanjutnya yaitu Uluwatu temple, nah disini merupakan kawasan Pura yangterkenal dimana artis Glenn Fredly dan Sandra Dewi melangsungkan pernikahan, Kawasan rindang dengan dipenuhi monyet-monyet serta Pura yang berada di Ditebing  Pinggir Pantai setinggi ratusan meter, pokonya cantik banget deh.

Rute ketiga yaitu Dreamland Park dikawasan ini merupaka kawasan taman Golf yang sangat luas beserta kawasan water Boom dan Pantai New Kuta… nah disinilah para turis-turis senang banget berjemur diterik matahari, para peselancar dan fotografer, pantai pasir putih, ombak yang besar, tebing-tebing yang unik wah kurang apalagi lagi saatnya foto-foto dan berenang, disini saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa turis dari Australia dan Finlandia, rata-rata beberapa dari mereka mengatakan kalau ini bukan kali pertama mereka berkunjung ke Pulau Dewata.

Rute terakhir dihari pertama yaitu kawasan GWK atau dikenal dengan Garuda Wisnu Kencana, disini anda harus membayar Rp.30 ribu untuk tiket masuk tapi jangan khawatir seimbang kok dengan pesona yang ditawarkan, dikawasan ini anda akan melihat patung raksasa dewa wisnu beserta kendaraannya sang Burung raksasa, ditambah lagi disini merupakan kawasan sunset yang indah karena berada diatas bukit, satu lagi menjelang malam anda akan melihat para Penari bali beraksi…

ga kerasa hari udah gelap seharian berkeliling saatnya pulang ke penginapan, buat teman-teman hari kedua di Bali saya akan bahas di Posting Selanjutnya dijamin lebih menarik. Thanks for reading..

Ingin bertanya? silahkan komen aja… ^_*

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Fort Rotterdam
atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.
Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.
Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Fort_Rotterdam
Yang diatas itu sejarah dari benteng roterdam yang saya dapat di wikipedia, sekarang saya mau menambahkan tentang keadaan fort roterdam di tahun 2011:
Benteng/Fort Rotterdam merupakan salah satu tempat yang banyak dikunjungi oleh wisatawan asing maupun lokal yang berada di Kota Makassar, kalau dizaman dahulu digunakan sebagai benteng pertahan dijaman sekarang dijadikan sebagai cagar budaya yang tak luput dari incaran para turis. Di Benteng ini juga terdapat Musium yang berisi benda-benda peninggalan nenek moyang serta beberapa informasi tetang sejarah terbentuknya Fort Rotterdam.
Seperti anak muda pada umumnya saya dan teman-teman juga sering datang ke tempat ini sekedar refresing ataupun foto-foto bareng teman-teman, karena susana ditempat ini juga banyak dimanfaatkan oleh para model dan fotografer untuk mengambil gambar dan latar dari Fort Roterdam tak dipungkiri lagi latar foto dengan Fort Roterdam memang bagus didukung dengan susana di Benteng yang dipenuhi dengan taman.
Di Benteng ini juga terdapat beberapa Club Bahasa Inggris yang rutin diadakan contohnya BPEC (Benteng Panynyua English Club) english meeting yang diadakan setiapa hari minggu di Fort Rotterdam yang berdiri sejak 1989 hingga sekarang ini, sedikit info lagi Benteng Panynyua merupukan salah satu nama dari Fort Roterdam yang dulu digunakan. terdapat juga galeri lukisan bagi anda yang berminat dengan seni painting.

Nah buat kaliaan yang tertarik dengan Benteng Peninggalan jaman Belanda ini datang aja ke Kota Makassar Sulawesi Selatan jaraknya tidak jauh dari Pelabuhan kota makassar dan berdekatan dengan Balai kota Makassar.

Hari itu aku dan teman SMA berencana liburan diluar daerah, tersebutlah sebuat tempat yang tak pernah aku kunjungi sebelumnya Tanjung Bira ya”’ begitulah orang-orang menyebutnya, memang sih sudah lama aku tidak pernah ketempat itu, aku tahu tentang daerah itu hanya dari teman-teman dan orang-orang yang telah lebih dahulu kesana.

Kami berangkat dari kota Sungguminasa sekitar jam 5 sore dengan mengendari mobil panther ya biayanya sekitar 35ribu perorang dan tiba di kota Bulukumba jam 9 malam, saya dan teman-teman istirahat semalam di kota Bulukumba dan perjalanan di lanjutkan esok harinya. jarak Tanjung Bira dari kota Bulukumba menempuh waktu sekitar 1 jam, setibanya disana kita harus membayar tiket masuk 3ribu rupiah perorang, sangat murah kan dan tak sebanding dengan pesona alam yang akan ditawarkan disana.

Setibanya di Tanjung Bira di ujung jalan aku melihat lautan luas yang membentang dikelilingi dengan pasir putih yang bersih, bukannya hanya turis lokal, turis dari luar negeri pun banyak yang berkunjung kesana. Perjalanan jauh ternyata terbayarkan dengan pesona alam yang eksotis batu-batu karang yang mirp seperti tebing-tebing menambah elok daerah ini.

Saya sarankan agar tidak berenang disiang hari, cobalah anda berenang di pagi atau sore hari, karena anda bisa merasakannya sejuknya air laut ditambah dengan kejernihannya yang membuat kita betah untuk bermain-main air.

Di tempat itu juga disediakan fasilitas seperti hotel dan beberapa pemondokan, anda juga bisa berkeliling dilautan dengan menyewa perahu nelayan dan juga peralatan menyelam wah.. mantap kan!

Berikut saya tampilkan beberapa foto yang sempat saya abadikan di Tanjung Bira.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Welcome Friends”

Posted: Januari 30, 2011 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!